
Anak ikut satu sesi, Anda mengamati dan berbincang dengan guru.
Ringkasnya
Orang tua di Bandung Raya sering menemui tiga istilah sekaligus saat mencari sekolah: PAUD, Kurikulum Merdeka, dan Montessori. Ketiganya berada di tingkat yang berbeda. PAUD adalah jenjang pendidikan untuk anak usia dini. Kurikulum Merdeka adalah kerangka belajar nasional dari pemerintah. Montessori adalah cara mengajar yang bisa dijalankan sebuah sekolah di dalam kerangka itu. Jadi perbedaan Montessori dan PAUD sebenarnya perbedaan tingkat, dan satu sekolah bisa sekaligus PAUD, memakai Kurikulum Merdeka, dan mengajar dengan cara Montessori.
Kualitas hubungan itu tidak bergantung pada nama metode.
Kemendikbudristek menyebut tahap PAUD sebagai Fase Fondasi. Intinya adalah bermain bermakna. Dokumen PAUDPEDIA merangkumnya dalam kalimat “bermain adalah belajar”. Capaian pembelajarannya terbagi dalam tiga elemen: nilai agama dan budi pekerti, jati diri, serta dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni. Guru mendapat keleluasaan menyusun kegiatan.
Satu analisis dari penulis Indonesia mencatat bahwa sekitar 42,8 persen satuan PAUD sudah menerapkan konsep merdeka bermain, tetapi pemahamannya di lapangan belum merata. Angka ini berasal dari satu sumber, jadi bacalah sebagai gambaran kasar.
| Ciri Montessori | Titik temu dengan Kurikulum Merdeka PAUD |
|---|---|
| Anak memilih kegiatan dari pilihan yang disiapkan guru | Semangat “Merdeka Belajar, Merdeka Bermain” |
| Belajar lewat tangan dan benda nyata | Bermain bermakna sebagai cara belajar |
| Guru mengamati, menyiapkan lingkungan, lalu memberi pelajaran singkat | Guru sebagai fasilitator yang menyusun kegiatan |
| Kegiatan kehidupan sehari-hari melatih kemandirian | Elemen jati diri dan budi pekerti |
| Materi konkret untuk mengenal huruf, angka, dan sains dasar | Elemen dasar literasi, matematika, dan sains |
Tabel ini mencocokkan prinsip. Praktik di tiap sekolah tetap berbeda, dan sekolah Montessori juga harus memastikan kegiatannya memenuhi capaian pembelajaran nasional.
Lillard (2021) menggambarkan Montessori sebagai jalan ketiga antara pelajaran yang diarahkan guru dan bermain bebas: kegiatan yang dipilih sendiri oleh anak dan berisi muatan akademik.
Penelitian pada otak anak usia dini dari Harvard menekankan hubungan yang responsif antara anak dan orang dewasa, yaitu “serve and return”: anak mengoceh atau menunjuk, orang dewasa menanggapi. Kualitas hubungan itu tidak bergantung pada nama metode. Karena itu, pertimbangkan hal-hal berikut sebelum memilih label:
Bila Anda tertarik pada Montessori, bacalah artikel kami tentang tujuh pertanyaan untuk menilai sekolah Montessori. Bila sekolah Anda memakai pendekatan lain, pertanyaan di atas tetap berlaku.
Sekolah Montessori juga harus memastikan kegiatannya memenuhi capaian pembelajaran nasional. Banyak prinsipnya bertemu, misalnya anak memilih kegiatan dan belajar lewat benda nyata, tetapi praktik di tiap sekolah tetap berbeda.
Bermain bermakna adalah inti Fase Fondasi PAUD dalam Kurikulum Merdeka. Dokumen PAUDPEDIA merangkumnya dalam kalimat “bermain adalah belajar”.
Tim Akar SemestaGuru dan pengelola TK & Club Montessori Akar Semesta di Cimahi.
Dua artikel lain tampil di sini secara otomatis.
Brosur berisi program, jadwal, dan rincian biaya. Kami kirim lewat WhatsApp.
akar semesta
Jl. Cipageran No. 67E, Cimahi, Jawa Barat
+62 851-7444-0454
Hatur nuhun sudah mampir. Sampai jumpa di Cipageran!
© 2026 Yayasan Akar Semesta Abadi